kebahagiaan (part satu)
Apakah kebahagiaan merupakan sebuah persamaan yang dapat dipecahkan? Seperti sebuah rumus matematik? Atau seperti sebuah premis yang seringkali mendasari semua asumsi dan keyakinan kita. Premis bahwa kebahagiaan itu bersifat algoritmik, bisa diutak-atik dan diperoleh atau dicapai? Seperti masuk sekolah yang diinginkan, atau mendapatkan pasangan yang didamba-damba? Jika berhasil mendapatkan X, maka saya akan bahagia. Jika mendapat seseorang seperti Z, maka saya akan bahagia. Apakah selalu seperti itu, atau justru premis itu sendiri adalah masalahnya? Beberapa bulan belakangan, terlalu banyak kasus konseling yang saya temui atau barangkali sekadar cerita curahan hati teman-teman terdekat yang mengatakan bahwa pasangannya pergi dengan wanita/pria lain. Tidak sedikit yang telah berada dalam ikatan pernikahan dan tidak sedikit barangkali kasus-kasus demikian kita temukan di dalam kehidupan percintaan sehari-hari. Atau mereka yang sudah memiliki mobil kemudian merasa saatnya ha...