Posts

kebahagiaan (part tiga)

Jikalau  kalau kamu ingin bahagia dengan pilihanmu bermain atas hidup dan perasaan orang lain, maka sebenarnya kamu sedang menciptakan dunia yang penuh dengan masalah dan jauh dari kebahagiaan yang selama ini kamu cari. Oleh karena bukan kebahagiaan yang konstanta yang kamu cari, melainkan hanyalah kebahagiaan dari menghindari masalah.  Kebahagiaan sejati akan terwujud hanya jika ketika kita menemukan masalah, menikmatinya walaupun hati seringkali terluka, dan menikmati proses pemecahannya. Mencintai bukan tentang mendapatkan atau tidak, tetapi tentang perasaan yang ditumbuhkan melalui tindakan. Bukan tentang kata-kata yang indah, melainkan tentang integritas dirimu dihadapan Tuhan dan pasangan. Kebahagiaan tidak sama sekali datang dengan umbaran kata-kata manismu, tentang seberapa pintar kamu memuji dirimu sendiri, tentang bagaimana kamu merasa pintar menyembunyikan kebohongan, melainkan tentang wujud dari kata-katamu yang terlihat lewat tindakan. Demikian kebahagia...

kebahagiaan (part dua)

Rasa sakit akan membuat hidup kita lebih baik meskipun membuat kita merasa lebih buruk. Ia akan membuat kita lebih kuat dengan membuat kita menangis, mencerahkan masa depan kita dengan menunjukkan kepada kita seperti apa itu kegelapan. Manusia tidak membuat solusi masalah untuk menyelesaikan masalah, melainkan solusi terhadap satu masalah hanya akan menciptakan masalah lain. Seorang lelaki terlalu takut untuk terluka karena mencintai wanita sedemikian dalam, maka ia menemukan solusi untuk menduakan hatinya dengan wanita lain yang baginya akan menjadi semacam ‘tameng’ agar hatinya tidak kecewa dan terluka ketika cinta tidak berpihak dari salah satu pujaan hatinya tersebut. “Solusi terhadap satu masalah hanya akan menciptakan masalah lain”. Well, take the risk! Masalah merupakan konstanta di kehidupan ini. Masalah tidak akan pernah berhenti, mereka hanya datang silih berganti atau meningkat. Ketika kita merasa tidak memiliki masalah atau tidak dapat menyelesaikan masalah, maka ...

kebahagiaan (part satu)

Apakah kebahagiaan merupakan sebuah persamaan yang dapat dipecahkan?  Seperti sebuah rumus matematik? Atau seperti sebuah premis yang seringkali mendasari semua asumsi dan keyakinan kita. Premis bahwa kebahagiaan itu bersifat algoritmik, bisa diutak-atik dan diperoleh atau dicapai? Seperti masuk sekolah yang diinginkan, atau mendapatkan pasangan yang didamba-damba? Jika berhasil mendapatkan X, maka saya akan bahagia. Jika mendapat seseorang seperti Z, maka saya akan bahagia. Apakah selalu seperti itu, atau justru premis itu sendiri adalah masalahnya? Beberapa bulan belakangan, terlalu banyak kasus konseling yang saya temui atau barangkali sekadar cerita curahan hati teman-teman terdekat yang mengatakan bahwa pasangannya pergi dengan wanita/pria lain. Tidak sedikit yang telah berada dalam ikatan pernikahan dan tidak sedikit barangkali kasus-kasus demikian kita temukan di dalam kehidupan percintaan sehari-hari. Atau mereka yang sudah memiliki mobil kemudian merasa saatnya ha...

#lettertomyself

Dear self, 2017 a year full of contradictions, Yessss, a year of change indeed, as always. A year with ups and and many downs. Some stories came to an end and new stories are about to begin. Then i know, tt’s called life. In 2017 I discovered myself in different ways. I learned that it’s true what they say, what’s meant for me will always find me. What’s not will always pass me by. I’ve learned that letting go is giving me more than my own expectation even its so hard, like letting go your flaws, your partner flaws, your imperfect life because nobody perfect. I realized sometimes laughing at yourself and at certain situations you’re in is necessary. Laugh! Laugh so much until you cry and let it all out. Your heart will feel so much lighter. I learned that my worth has nothing to do with how other people treat me. I mean so!! I don’t really care anymore about others with their hobby  ‘judging’ or ‘labeling’ me with their own mind. In fact it says every...

MELEPAS (part 2)

Ketika orang-orang mengatakan hal buruk tentang kita, melukai, mencurangi, mengecewakan, ternyata terlalu sulit bagi kita untuk membiarkannya berlalu. Terkadang, melepas bukan berarti kita melepaskan sepanjang waktu, tetapi sekadar melepas dan membiarkan segala sesuatu berjalan dengan alami, begitu kata Ajahn Brahm, Sang Biksu dari Thailand yang buku-buku terbitannya sangat menginspirasi.  “Jika kita tidak bisa melepasnya, orang itu terus melukai kita, terus mencelakai kita. Ini adalah hal yang paling aneh, sebab mereka melukai kita tetapi kita melekat terhadap hal itu, sehingga mereka melukai kita lagi dan lagi, setiap kali kita memikirkannya, mereka melukai kita sekali lagi”(Brahm 2011)  Mungkin, pada titik ini kita seperti dipanggil lagi melihat apa yang selama ini paling menyakitkan dari mencoba bertahan terhadap sesuatu yang seharusnya dapat kita lepaskan, meskipun saya tahu, hal ini tak pernah mudah. Kita pasti pernah begitu mencintai dan memiliki banyak mimpi...

tentang penyesalan

Penyesalan adalah hal yang paling mungkin untuk membuat kita putus asa, membuat kita terpuruk, membuat kita merasa paling tidak diinginkan. Penyesalan adalah hal yang paling mungkin menyakiti dan mengecewakan kita, membuat kita bahkan kesulitan mempercayai diri kita sendiri. Siapa yang tidak menyesali, kesempatan yang ada di depan mata, lewat begitu saja karena kelalaian .. Siapa yang tidak menyesali, merasa mampu melakukan sesuatu yang lebih maksimal lagi, tetapi realita berkata lain .. Barangkali, penyesalan adalah pil pahit yang benar-benar harus kita telan dan rasakan. Sekalipun rasanya menyakitkan dan amat sangat tidak menyenangkan, namun siapa yang sangka dampaknya akan berbuah begitu manis. Ketika kita mampu menerimanya menjadi bagian dari hidup kita, mempelajari penyesalan tersebut, dan berusaha untuk tidak terjatuh pada kesalahan yang sama. Penyesalan sejatinya tidak datang begitu saja, ia datang membawa segudang pembelajaran.

MELEPAS (part 1)

"Salah satu bagian terpenting dari melepas adalah mencintai diri sendiri dan memutuskan untuk bahagia” Barangkali kita memiliki pengalaman tersendiri dengan melepas.  Entah apa yang terlihat salah dengan kata “melepas”. Nampaknya kerap kali mengucapkan, seperti ada perasaan berat, berbeban, sedih, menyebalkan, dukacita. Melepas, memang tak semudah mengucapkannya, ada begitu banyak hal yang membuat kita terlalu sulit melakukannya.  “Melepas, menjadikan lepas, membiarkan lalu, pergi, berangkat,    berlayar, dan berbagai makna melepas lainnya.” Melepas nyatanya tidak hanya identik dengan sebuah hubungan percintaan antara sepasang kekasih, tetapi juga bermakna lebih luas dari itu. Ketika kita bersahabat dan mendapatkan pengkhianatan, kita belajar melepas. Ketika kita bekerja dan memiliki sebuah tujuan yang ternyata belum saatnya dicapai, kita belajar melepaskan. Apa yang dilepaskan? Tergantung apa yang selama ini kita tahan di dalam di...